Dalam perjalanan hidup, kita sering kali mendapati diri kita berada di persimpangan konflik orang lain. Menjadi seorang penengah (mediator) bukanlah sekadar tugas administratif atau sosial, melainkan sebuah seni spiritual yang mendalam. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah yang paling utama. Namun, seninya terletak pada satu titik krusial: bagaimana menjaga hati agar tetap tenang dan tidak terpancing emosi yang berat sebelah.
Memahami "Khittah" Seorang Penengah
Ketika melihat dua pihak berselisih—selama tidak ada urgensi fisik seperti baku hantam—kita sering kali merasa harus segera menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Di sinilah letak jebakan pertamanya. Dalam kacamata konseling, tugas penengah bukanlah menjadi hakim, melainkan menjadi ruang aman (safe space).
Seni menjadi penengah adalah seni menahan diri. Kita hadir bukan untuk menuangkan bensin, melainkan untuk menyediakan bejana yang luas agar api amarah lawan bicara bisa meredup dengan sendirinya. Dalam bahasa agama, inilah yang disebut dengan Ishlah. Upaya perbaikan ini dimulai dari ketenangan batin sang penengah itu sendiri. Jika batin kita keruh, maka solusi yang kita tawarkan pun akan bias.
Menghindari Jebakan Emosi "Berat Sebelah"
Salah satu tantangan terberat adalah ketika salah satu pihak merasa lebih "terzalimi" atau memiliki kedekatan emosional dengan kita. Teraputik mengajarkan kita untuk mempraktikkan unconditional positive regard—penerimaan tanpa syarat. Kita mendengarkan bukan untuk menghakimi karakternya, melainkan untuk memahami lukanya.
Jangan biarkan emosi kita terseret ke dalam arus frekuensi kemarahan mereka. Jika kita ikut emosi, kita kehilangan objektifitas. Ingatlah prinsip wasathiyah (moderat/tengah). Seorang penengah yang sehat adalah ia yang mampu berempati tanpa harus bersimpati secara buta. Kita memvalidasi perasaan mereka ("Saya paham Anda merasa kecewa"), namun tetap tegas pada fakta ("Mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda").
Menjaga Kesehatan Mental dan Kreativitas
Mengapa kita harus tetap tenang? Karena konflik adalah penyerap energi (energy drainer) yang luar biasa. Jika kita tidak menjaga jarak emosional yang sehat, energi kreatif kita untuk berkarya akan habis tersedot oleh drama kehidupan orang lain.
Menjadi penengah yang islami berarti menyadari bahwa hidayah dan perubahan hati adalah urusan Allah SWT. Tugas kita hanyalah membentangkan jembatan. Dengan melepaskan beban "harus berhasil mendamaikan saat itu juga," kita memberikan ruang bagi diri kita untuk tetap sehat secara mental.
Seni ini menuntut kita untuk:
Tabayyun (Verifikasi): Mendengar dari kedua belah pihak dengan porsi yang sama.
Kalam Khair (Perkataan Baik): Memilih diksi yang mendinginkan, bukan memprovokasi.
Self-Care: Mengetahui kapan harus menarik diri sejenak untuk memulihkan energi spiritual kita sendiri.
Penutup: Menjadi Oase yang Tetap Berkreasi
Dunia butuh lebih banyak penengah yang tidak mudah tersulut. Dengan menjadi pribadi yang seimbang, kita tidak hanya membantu orang lain keluar dari kemelut, tapi juga menjaga kualitas hidup kita sendiri agar tetap produktif dan kreatif.
Jadilah oase di tengah padang pasir konflik. Dingin, menenangkan, namun tetap kokoh pada prinsip kebenaran. Dengan cara ini, kita tidak hanya sedang menyelesaikan masalah, tapi juga sedang merajut ibadah yang akan membawa ketenangan bagi jiwa kita sendiri. Karena pada akhirnya, perdamaian yang paling indah adalah perdamaian yang lahir dari hati yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
👉 Yuk, beri ruang diri Anda dengan konsultasi .
Konsultasikan kondisi Anda dan atur jadwal terapi sesuai kebutuhan.
📲 Konsultasi & Booking Terapi via WhatsApp
Klik tombol di atas untuk konsultasi langsung atau booking jadwal terapi dengan mudah.